Kamis, 13 Februari 2014

CATATAN GADO-GADO

Aha, lama sekali tak nge-blog. Terbengkalai semua. Padahal begitu banyak hendak dimuntahkan.

Baik. 

Bi En menelponku dan mengabarkan kemungkinanku berangkat tahun ini sekitar 40%. Ia tawarkan berangkat dari Filipina. Ha ? Lalu imajinasiku mengembara ke segerombol orang yang luntang-lantung di negara orang. Aku ragu-ragu dan mencernanya di otak. Andai berada pada masa muda ketika semangat luntang-lantung itu bergolak, aku tak banyak pikir.

Luntang-lantung itu mungkin frasa dramatis. Namun lebih baik membayangkan terburuk.  
---------------------------------------------------------------------------------------------


Aku belum menuliskan pengalaman umroh kemarin. Sudah begitu banyak cerita umroh atau haji. Namun pengalaman itu begitu personal. Baik, aku akan menulisnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------


Encul tidur lekas di sofa. Itu alasan mengapa aku begitu relaks membuka laptop. Mbaknya nobar film yang mengambil latar kota kami. Gerimis jatuh.  Beberapa hari mentari bersembunyi.  

Kamis, 03 Oktober 2013

MIE INSTAN DAN KAKUS DUDUK

Mbah Uti bikin stres semua orang dengan kerewelannya atas banyak hal. Ia seolah manusia yang berada pada tempat dan waktu yang kurang pas.  Dispenser, AC, kakus duduk, oven, kompor gas, pemanas air adalah masalah. Itu benda-benda. Belum soal tatacara dan kebiasaan. 


Meski sering jengkel atas kerewelannya, di sisi lain aku menyenangi fakta bahwa beberapa bulan Ia keluar dari semestanya berurat-akar. Hidup bersama kami -lima manusia berbeda dengan yang biasa ditemuinya.  Setidaknya, aku terbiasa berbicara apa adanya. Tidak memendamnya. Anak-anak menampakkan resistensi istimewa.


Minggu-minggu awal, Ia masih meributkan mie instan. Dengan alasan kesederhanaan, Ia mengherani sebungkus mie instan untuk seorang. Keluarga Surabaya lagi-lagi jadi contoh laku mulia : sebungkus mie instan dikeroyok serumah. Ketika kami membeli nasi Padang (tentu saja satu bungkus untuk satu orang), Ia mengoceh bahwa seharusnya kami bisa bancakan sebungkus saja.


Duh, kami benar-benar sebal dibuatnya. Ajaibnya, aku bisa menghadapinya dengan cuek. Membiarkannya mengoceh dan berceramah apa saja, lalu di lain waktu akan membalasnya dengan tenang. Soal mie instan, aku bilang : " Mie instan kan bukan kemewahan. Kalau di sana sebungkus dimakan serumah, masakan orang di sini harus menirunya ? Sederhana itu bukan seperti itu, Bu. Kalau kami makan mie instan untuk serumah, itu namanya keterlaluan kalo ndak edan."

Plek.

Ajaibnya pula Ia bisa bertahan denganku. Aku merasakan Ia tak membenciku meski mungkin tak menyetujui pendapat atau caraku mengelola rumahtangga.  Biasanya seteleh bersitegang, kami kembali akrab dan berbincang normal (dan saling memahami).


Suatu hari tiba-tiba Ia berkata : " Dengan umroh mahal ini (maksudnya umrah eksekutif), kan pastinya nanti di hotel kita pakai kakus duduk. Gimana ya, Mbah pasti tidak bisa.."


Aku sedang membaca koran, menghadap TV, lalu menjawab : " La trus gimana, Bu ? Mana ada hotel masa sekarang pakai kakus jongkok ? Bahkan jika bukan umroh eksekutif atau yang murah seperti kata Ibu, ya tetap saja dimana-mana hotel pakai kakus duduk."


Tampangnya pusing. Aku telah menyiapkan jurus selanjutnya jika Ia terus-menerus menggalaukan kakus duduk. Akan kubilang : " Atau, Ibu ndak mau umrah ?".  Namun yang terucap dari bibirku selanjutnya adalah kalimat : " Ndak usah dipikir, Bu. Akan ada jalannya."


Asalinya, akan ada jalannya itu tanda kepusinganku.